Bahasa Jawa Semakin Ditinggalkan

YOGYA (KRjogja.com) - Jumlah pembaca majalah maupun surat kabar berbahasa Jawa saat ini makin berkurang, karena generasi sekarang tidak tertarik terhadap media cetak yang menggunakan bahasa daerah, kata peneliti pada Balai Bahasa Yogyakarta Edy Setyanto.

"Jadi, wajar jika saat ini penerbitan majalah maupun surat kabar berbahasa Jawa makin berkurang jumlahnya, karena sudah tidak diminati masyarakat terutama kalangan generasi muda," katanya, di Yogyakarta, Rabu (23/6).

Menurut dia, apabila ada majalah maupun surat kabar berbahasa Jawa mampu bertahan hidup, karena memiliki pembaca yang setia, yaitu mereka para pemerhati bahasa Jawa maupun masyarakat dari kalangan generasi tua.

"Kondisi ini sangat memprihatinkan, karena masyarakat Jawa tidak lagi memiliki perhatian terhadap media massa khususnya media cetak yang masih melestarikan penggunaan bahasa Jawa," katanya.

Jika kondisi tersebut dibiarkan, kata dia, maka media cetak yang menggunakan bahasa daerah ini akan hilang atau berhenti terbit.

Ia mengatakan para penulis di majalah bahasa Jawa kini bahkan lebih suka menulis di media cetak berbahasa Indonesia.

"Pertimbangan mereka karena majalah berbahasa Jawa tidak lagi dibaca orang Jawa, dan pengelolanya tidak mampu memberikan honor tulisan yang layak," katanya.

Edy juga mengatakan pemerhati bahasa dan sastra Jawa di Yogyakarta saat ini jumlahnya makin sedikit. "Kalau pun masih ada, mereka hanya dari kalangan generasi tua yang jumlahnya sangat sedikit," katanya.

Menurut dia, kondisi tersebut bisa dilihat pada setiap pertemuan `macapatan`, yaitu membaca karya sastra semacam puisi berbahasa Jawa, yang hadir jumlahnya hanya sekitar 75 orang, dan sebagian besar mereka sudah berusia lanjut.

"Jika ada dari kalangan generasi muda yang hadir, mereka adalah mahasiswa Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gadjah Mada yang memang berkepentingan untuk studi mereka," katanya.

Oleh karena itu, kata dia, Balai Bahasa Yogyakarta (BBY) terpanggil untuk melakukan pembinaan bahasa daerah dalam ikut melestarikan bahasa dan sastra Jawa di provinsi ini. "Kegiatan yang kami selenggarakan di antaranya Bengkel Bahasa Jawa," katanya.

"Tujuan kegiatan bengkel ini untuk meningkatkan kemampuan menulis di kalangan guru SMA yang mengajar bahasa Jawa," kata Edy yang juga koordinator Bengkel Bahasa Jawa itu.

Menurut dia, saat ini bahasa Jawa sudah masuk kurikulum muatan lokal (mulok) SMA, sehingga para guru bahasa Jawa dituntut memiliki kemampuan menulis dengan menggunakan bahasa Jawa serta mengkomunikasikannya kepada masyarakat.

"Diharapkan dengan kemampuan menulis dengan menggunakan bahasa Jawa di media cetak, mereka juga bisa mengemukakan berbagai hal yang aktual, sehingga dibaca masyarakat," katanya