Literasi Digital : Guru Menjadi Teladan Bagi Siswa

 Sekian lamanya pengertian literasi dikaitkan dengan kemampuan untuk mengkonstruksikan makna (mengerti) tulisan dan selanjutnya mengungkapkan makna/pesan secara tertulis di atas kertas. Kegiatan untuk membangun kemampuan literasi yang dilakukan guru di sekolah adalah mengajar siswa mengenali dan mengeja huruf, membaca rangkaian kata dan pada selanjutnya melatih mereka untuk mengungkapkan makna atau pesan ke dalam tulisan. Pengertian literasi yang terkait dengan kemampuan membaca dan menulis ini relevan ketika media yang digunakan untuk menyampaikan informasi/pesan terbatas pada media cetak.

Dewasa ini informasi tentang dunia di sekitar kita tidak terbatas pada media cetak. Di era digital ini, informasi tentang dunia di sekitar kita telah tampil dalam wujud yang berbeda (visual dan audio) dan lebih kompleks. Selain intensitas informasi digital tersebut yang semakin besar, tidak mudah untuk kita bisa memahami makna informasi digital tersebut secara langsung. Seperti halnya literasi dalam konteks media cetak, kita menginginkan anak didik kita memiliki kemampuan literasi dalam media digital. Kita mengharapkan anak didik kita mampu membaca dan menulis dengan menggunakan bahasa bahasa gambar dan suara secara lancar. Singkat kata, kita ingin mereka memiliki keterampilan berinteraksi, berbagi ide dan berkolaborasi secara konstruktif sehingga mereka dapat berpartisipasi dalam kehidupan masyarakat yang serba digital.

Apakah itu literasi media? Media adalah alat untuk  menyimpan atau menyampaikan informasi. Dalam pengertian ini, media memiliki cakupan yang luas termasuk televisi, komputer, cetak atau gambar, media visual, suara, film, multimedia, dan lain lain. Singkat kata media dalam konteks literasi media mencakup semua media tempat informasi itu bisa disimpan dan dikomunikasikan. Sementara itu, literasi adalah kemampuan yang melibatkan keterampilan (skill) dan pengetahuan (knowledge). Keterampilan dalam literasi media adalah berpikir kritis (critical thinking) yang meliputi kemampuan menganalisis, mengevaluasi, mengelompokkan, menyimpulkan secara deduktif dan induktif, melakukan sintesis dan membuat abstraksi. Sementara itu, aspek pengetahuan meliputi pengetahuan tentang dampak penggunaan media, isi media, industri media, dunia nyata dan diri. Singkat kata, literasi media adalah kemampuan di dalam mengakses (access), menganalisis (analyze), mengevaluasi (evaluate), menciptakan (create), dan berpartisipasi (participate) dengan berbagai bentuk media.

Mengakses merupakan kegiatan ketika individu mampu mendapatkan, mengumpulkan dan memahami informasi yang relevan dan berguna secara efektif. Hal-hal yang terkait dengan kegiatan mengakses adalah :

  1. mengenali dan mengerti kosa kata, symbol-simbol, dan teknik komunikasi.
  2. mengembangkan strategi untuk menentukan informasi yang tepat dari berbagai macam sumber.
  3. memilih jenis-jenis informasi yang relevan untuk keperluan tertentu.

Menganalisis adalah kemampuan di dalam meneliti bentuk, struktur, dan rangkaian informasi. Selama melakukan analisis, perlu untuk mempertimbangkan beberapa aspek seperti artistik, sastra, sosial, politik, dan ekonomi untuk lebih memahami konteks saat pesan tersebut disampaikan. Hal-hal yang terkait dengan kegiatan menganalisis adalah:

  1. menggunakan pengalaman/pengetahuan awal (prior knowledge/experience) untuk meramalkan hasil
  2. menafsirkan pesan dengan menggunakan konsep seperti tujuan, kelompok penerima pesan, sudut pandang, format, genre, karakter, plot, tema, mood, setting, dan konteks
  3. menggunakan strategi termasuk membandingkan/membedakan fakta/opini, sebab/akibat, merinci, dan mengurutkan

Mengevaluasi adalah kegiatan yang orang lakukan dalam menghubungkan informasi yang mereka terima dengan pengalaman mereka sendiri dan selanjutnya membuat penilaian tentang kebenaran, kualitas dan relevansi informasi. Hal-hal yang terkait dengan kegiatan evaluasi adalah sebagai berikut.

  1. memberikan penafsiran terhadap berbagai jenis bentuk pesan dan genre informasi
  2. mengevaluasi kualitas pesan berdasarkan bentuk dan isi
  3. memberikan penilaian pesan berdasarkan prinsip etika, agama, demokrasi, dan lainnya.
  4. memberikan tanggapan secara lisan, cetak, atau elektronik terhadap pesan

Menciptakan adalah kemampuan seseorang untuk dapat menulis    pendapatnya dengan menggunakan kata-kata, suara dan atau gambar secara efektif untuk berbagai tujuan dan mampu memanfaatkan berbagai macam  teknologi komunikasi untuk menciptakan, menyunting (edit), dan menyebarluaskan pesannya.Hal-hal yang termasuk di dalam menciptakan adalah sebagai berikut.

  1. menggagas ide, merencanakan, menyusun dan memperbaiki pesan.
  2. menggunakan bahasa lisan dan tulis secara efektif dengan memperhatikan tata bahasa yang baik dan benar.
  3. menciptakan dan memilih gambar secara efektif untuk mencapai sasaran.
  4. menggunakan teknologi informasi untuk mengkomunikasikan pesan.

Berpartisipasi adalah kegiatan ketika orang mampu terlibat dalam interaksi dengan orang lain untuk bekerjasama dan saling berbagi pesan dalam mencapai sebuah tujuan. Hal-hal yang termasuk dalam berpartisipasi adalah sebagai berikut.

  1. melakukan interaksi dan komunikasi timbal balik dengan orang lain
  2. mampu melakukan pertukaran informasi dengan orang lain melalui penggunaan teknologi informasi dengan cepat dan tepat.
  3. Mampu bekerjasama dalam pemanfaatan karya bersama untuk menghasilkan bentuk dan ungkapan yang baru.
  4. mampu berinteraksi secara bertanggung jawab dan etis.

Beberapa contoh aktivitas yang mencerminkan kemampuan dalam literasi digital adalah sebagai berikut.

  1. Guru dapat menggunakan alat-alat digital untuk menghemat waktu serta memudahkan administrasi, misalnya dengan menggunakan software timetable untuk membuat jadwal pelajaran. Bandingkan berapa banyak waktu yang tersita jika kita (anggap sebagai bagian kurikulum) membuat jadwal pelajaran secara manual?
  2. Guru dapat menggunakan alat-alat digital untuk mencari bahan pembelajaran yang up-to-date atau kekinian.

Menurut Hague (2011) literasi digital juga merujuk pada pengetahuan tentang bagaimana teknologi memberi dampak terhadap makna dan kemampuan untuk menganalisis serta mengevaluasi pengetahuan pengetahuan yang tersedia di dalam jejaring web. Kehadiran TIK (internet) misalnya dalam perkembangan selama ini, telah membawa perubahan bagi masyarakat. Hanya saja, kesenjangan digital khususnya di negara-negara berkembang seperti Indonesia masih menjadi masalah yang harus dipecahkan. Salah satu faktor yang mempengaruhi kesenjangan digital, termasuk ICT literacy adalah faktor sosial, ekonomi dan geografis.

Guru memiliki peran penting dalam dunia pendidikan. Menurut Prof. Dr. Munir, M.IT., guru menjadi ujung tombak pemanfaatan TIK dalam pendidikan karena guru berada pada posisi front end yang langsung bersentuhan dengan siswa. Keberadaan TIK di masyarakat yang begitu terbuka (open access) sangat memungkinkan siswa bisa lebih mengakses informasi secara cepat dan jika guru tidak mengimbangi maka bisa terjadi knowledge capacity siswa lebih tinggi dibandingkan guru. Oleh karena itu, guru dituntut untuk memiliki kemampuan TIK yang memadai, bahkan tidak hanya cukup dengan ICT literacy, tetapi harus beranjak menjadi ICT fluence.

Sumber :

  • Ginting, D. Fahmi, Fitri D.I., Mulyani Y.S., Ismiyani, N., Sabudu D. 2021. Literasi Digital Dalam Dunia Pendidikan di Abad ke 21. Malang:Media Nusa Creative
  • Utami D.W., Indrajit R.E. 2020. Menyongsong Era Baru Pendidikan Pengembangan Kompetensi TIK Guru Berdasarkan UNESCO ICT (Competency Framework for Teacher).Yogyakarta:Andi
  • Rafiqo. H., Indrajit R.E. 2021. Guru Milenial dan Tantangan Society 5.0. Yogyakarta:Andi