Baca Artikel

Kategori: Pojok Inspirasi

Memahami Body Shaming, Perilaku Negatif Penyebab Trauma Emosional

Blog Single

Di tengah-tengah pandemik Covid-19 yang melanda Indonesia dan hampir sebagian besar negara di dunia saat ini, kurang lebih satu setengah bulan lagi kita akan merayakan Hari Raya Idul Fitri 1441 Hijriah. Dan walau saat ini tengah marak pula anjuran dan penggunaan istilah physical distancing (pembatasan fisik) sebagai pengganti untuk social distancing (pembatasan sosial), tidak bisa dipungkiri bahwa hari raya adalah hari yang dinantikan oleh sebagian besar orang Indonesia.

Namun demikian di momen berkumpul hari raya tersebut justru kita terkadang pernah mendengar beberapa ucapan seperti, “Ya ampun kamu kok makin kurus sih!”, “Kamu iteman ya sekarang.”, “Duh jerawat kamu kok makin banyak sih?” Dan berbagai ucapan yang kurang lebih senada dengan itu. Pun tidak terkecuali di era digital saat ini, perilaku dan komentar sejenis juga banyak kita temukan di dunia maya seperti media sosial. Kebiasaan tersebut nampaknya sangat mudah dilakukan oleh manusia, karena kebebasan dan ketersediaan ruang-ruang publik yang makin sangat masif sekarang ini.

Kondisi seperti ini disebut body shaming. Body shaming adalah suatu perilaku mempermalukan seseorang dengan memberikan komentar atau kritik negatif tentang tampilan tubuhnya. Banyak orang yang tidak menyadari dan kerap kali meremehkan, body shaming justru dapat memberikan dampak negatif dalam kehidupan korban, meskipun dilakukan dengan cara yang paling halus sekalipun. Mirisnya sampai sekarang perilaku body shaming masih sering dianggap hanya sebagai candaan belaka, padahal efeknya sangat tidak baik.

Sayangnya, tidak dapat dipungkiri bahwa body shaming bisa terjadi pada siapa saja, baik laki-laki maupun perempuan. Bahkan pelaku body shaming pun tidak memandang usia dimana body shaming sering kali dilakukan kepada anak usia remaja bahkan orang tua sekalipun. Sama dengan bullying (perundungan) terhadap fisik, body shaming memiliki pengaruh yang besar terhadap kesehatan mental seseorang. Mereka menjadi tidak percaya diri, stres dan depresi, bahkan bisa berujung pada perobaan bunuh diri dan kematian.

Tentu semua orang berhak beropini, tetapi apa yang kita ucapkan harus dapat di pertanggungjawabkan. Belajar tidak meremehkan kekurangan seseorang, memilih dengan bijak ruang sosial media yang kita ikuti, merubah obrolan ke topik lain yang tidak menyinggung kondisi fisik seseorang, hingga mulai belajar membantu mereka yang menjadi korban body shaming, adalah beberapa hal yang jauh lebih positif ketimbang membuat percakapan yang justru dapat menimbulkan efek buruk dan bisa menyakiti hati orang lain. Mari mulailah dari diri kita sendiri dengan belajar menerima diri dan menghargai orang lain.

Bagikan Artikel:

"Change and Moving Forward with Technology"